Sabtu, 28 Desember 2013

Trip



         

                 Terkadang bangun pagi di hari libur adalah hal yang jarang sekali terjadi. Seperti pagi ini. Pagi ini suasana rumah begitu ricuh. Ibu sibuk menyetrika pakaian sambil berteriak memanggil Romi untuk segera mandi. Kakak perempuanku yang terkena depresi berat hanya terbaring di atas tempat tidurnya. Namun sewaktu – waktu, dia tidak ingin kalah dengan suara ibu dengan meraung – raung sekerasnya. Dan bisa kutebak, ibu pasti akan memanggil namaku.

“Marthaaa!!!!!”.
            Aku berjalan gontai menuju kamar kakak perempuanku yang berada di kamar belakang. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan kakak yang satu – satunya milikku dan Romi. Beberapa bulan lalu dia terkena pukulan berat, tepatnya saat pengumuman kelulusan ujian. Kakakku menjadi seorang diantara tiga siswa yang dinyatakan tidak lulus di SMA tempat dia belajar. Semua itu diluar dugaan. Selama tiga tahun bersekolah di SMA itu, dia selalu menjadi juara satu paralel. Dia menjadi salah satu siswa andalan di kelasnya. Sebagai adik, aku hanya bisa menguatkannya dan menyadarkan kedua orangtuaku bahwa dibalik musibah, Tuhan memberikan rencana baik untuk umatnya.
“Kak, lihat deh. Aku bawa bantal kesukaan kakak, Lilo And Stich.” Kuberikan hadiah pemberian sepupuku itu kepada kakakku.
“Bagus.” Dia langsung mengambil bantal itu dan memeluknya. Syukurlah, dia tertidur.
            Aku keluar dan menutup pintu kamar kakak secara perlahan. Aku ingin membiarkannya terlelap agar ibu sedikit merasa tenang. Untuk saat ini saja, aku berharap banyak pada kakak. Sekarang giliranku menggeret Romi untuk mandi. Dia tidak peduli dengan teriakan ibu dan tetap asyik dengan PSPnya. Romi.

***

“Martha, ayah ingin bicara sebentar denganmu.” Kata ayah yang baru saja pulang dari menyewa mobil untuk kendaraan mudik kami sekeluarga ke Klaten.
“Ada apa ayah?”
“Usia kamu sudah lima belas tahun, sudah saatnya kamu mandiri.” Mendengar kalimat yang dilontarkan ayah, aku bagaikan berada di ujung pasak dan ayah siap untuk membebaskan kehidupanku.
“Maksud ayah?”
“Di musim lebaran ini, banyak sekali keluarga yang ingin menyewa mobil untuk mudik. Karena jumlah mobil di setiap persewaan mobil itu terbatas, akhirnya ayah mendapatkan satu mobil yang berukuran tidak terlalu besar.”
“Mobil apa, ayah?” Aku bergegas menuju halaman depan rumah, melihat mobil apakah yang disewa oleh ayah. Tiba – tiba aku terkejut. Mulutku menganga, namun tidak mampu berkata apapun. Speechless. Apa ayah serius dengan mudik tahun ini? Ayah hanya menyewa sebuah mobil sedan yang pasti tidak cukup untuk keluarga kami.
“Maafkan ayah, nak. Mungkin kali ini ayah harus mengorbankanmu.”
“Ayah tidak ingat berapa anak yang ayah punya? Ayah tidak ingat bagaimana keadaan kak Marsya?” Emosiku tersulut. Aku membentaknya. Aku berlari masuk ke kamar, dan menutup pintu dengan keras. Tangisku pecah. Apa air mataku ini menandakan aku tidak akan berkumpul dengan sepupuku di Klaten?
            Pintu kamarku terbuka. Aku berusaha tengkurap dan menutupi punggung kepalaku dengan bantal agar isak tangisku tidak terdengar oleh seseorang yang akan masuk ke kamarku, terutama Romi. Napasku sesak akibat bantal yang kugunakan untuk menutupi punggung kepalaku. Sebuah tangan halus memijat pelan kakiku. Aku terbangun dan melihatnya. Ibu. Dia sudah duduk di tempat tidurku dan masih memijat pelan kakiku. Aku tersenyum.
“Martha, kamu adalah harapan ayah dan ibu. Kamu harus menuruti perintah ayah.” Ibu mengusap keningku.
“Ayah nggak adil, bu.”
“Ayah sudah berusaha adil. Sekarang giliran kamu, mau menerimanya atau tidak.” Ibu beranjak dari tempat tidurku dan pergi dari kamarku.
             Aku mengerti maksud ibu. Ayah sudah berusaha untuk menyewa mobil yang lebih besar untuk kami, meskipun Tuhan belum mengijinkannya. Kuputuskan untuk keluar dari kamar dan menghampiri ayah.
“Ayah, maafkan Martha.” Aku memeluk ayah yang sedang berdiri dari arah belakang.
“Jadi kamu mau menuruti permintaan ayah?”
“Ya, ayah.”
“Itu baru namanya Martha. Oke, apa kamu tidak keberatan jika naik bus sendirian untuk pergi ke Klaten?”
“Ide bagus! Aku nggak akan keberatan. Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Untuk ke terminal Bungurasih, aku ingin Helmy mengantarkanku.”
“Baiklah, tapi jangan macam – macam ya.”
“Siap!”

***

            Menjelang jam 10 pagi, ayah bersama keluarga mulai berangkat menuju Klaten. Semua barang bawaanku disimpan di dalam mobil, sehingga aku hanya membawa tas kecil dan kantong plastik berisi makanan ringan selama perjalanan nanti. Ayah terus mengingatkan Helmy untuk mengantarkanku dengan selamat menuju terminal Bungurasih. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Helmy mengantarkanku. Dia juga sering menjemputku ketika berangkat sekolah.
“Ayahmu sangat sayang padamu, jadi dia terus mengingatkanku. Ha..ha..” Helmy masih saja berbicara di tengah perjalanan.
“Hel, konsentrasi! Kamu kan lagi nyetir!” Aku memarahinya.
            Ternyata tanpa ocehan Helmy, perjalanan menuju ke terminal Bungurasih terasa sangat lama. Aku beberapa kali hampir tertidur hingga motor sedikit oleng. Syukurlah, Helmy mengerti keadaanku. Tanpa diminta, Helmy langsung mengeluarkan suaranya dan menyanyikan beberapa lagu berbahasa Inggris yang entah apa artinya. Sukses! Dia membuatku tidak lagi tertidur.
            Selamat datang di terminal Bungurasih Surabaya. Hiruk pikuknya suasana terminal membuat Helmy kesulitan untuk mencari tempat parkir. Faktanya, tempat parkir yang tersedia sudah penuh. Helmy memutuskan untuk memarkirkan sepeda motornya di sepanjang trotoar. Aku benci ke terminal pada musim lebaran. Banyak penumpang berjajar di sepanjang trotoar yang sedang menunggu kedatangan bus. Banyak, banyak sekali! Tidak terkecuali ibu yang menyusui bayinya. Dia tidak peduli pada setiap orang yang melihatnya menunjukkan mata air milik bayinya yang ingin menyusu.
“Itu, Hel! Aku akan naik bus kuning putih itu!” Aku menunjuk bus berwarna kuning bercampur putih yang baru saja melintas dan berhenti di dekat tempat kami berdiri.
“Tunggu, aku akan mencari tempat duduk untukmu.” Helmy berlari dan berebut dengan penumpang lain untuk masuk ke dalam bus. Dia berhasil melewatinya. Dari luar, kulihatnya telah menemukan tempat duduk dan melambaikan tangan padaku. Aku menghampirinya.
“Hmm… Mar, aku nggak dapat.” Helmy turun dari bus ketika aku berdiri di depan pintu belakang bus.
“Loh, tapi tadi aku melihatmu melambaikan tangan.”
“Sebenarnya aku dapat, tapi ada nenek – nenek yang membutuhkan tempat duduk. Sabar ya.” Kata Helmy sambil menggandengku kembali ke tempat semula, di dekat sepeda motor Helmy.
            Sudah hampir satu jam aku berada di tempat ini. Sesekali aku duduk di trotoar, lalu berdiri lagi. Begitu pula dengan Helmy. Dia terus memandang ke arah pintu masuk, berharap menemukan bus yang akan kunaiki. Helmy, maafkan aku yang sangat merepotkanmu.
“Mar, pasti kamu membutuhkan mp3 player ini untuk menemani perjalananmu.” Helmy memberikan mp3 playernya padaku.
“Thanks, Hel.”
“Hei, itu busnya!” Helmy mengejar bus berwana kuning bercampur putih itu. Dia kembali berebut dengan penumpang lain untuk bisa mendapatkan tempat duduk di dalam bus. Dia kembali melambaikan tangan padaku dari salah satu deretan tempat duduk. Aku menghampirinya.
“Sekarang kamu bisa berangkat. Hati – hati ya! Aku pasti merindukanmu.” Kata Helmy sambil mempersilahkanku duduk di tempat duduk yang dipilihnya. Bangku nomor tiga dari depan sebelah kanan dekat jendela.
“Thanks ya, Hel. Do’akan aku sampai di Klaten. Aku takut tersesat. Ha.ha..ha..” Kami berdua bersalaman. Dia membelai poniku, lalu mengacak – acaknya. Uh!
            Helmy berjalan keluar bus. Kulihatnya berdiri di pinggir trotoar. Sesekali dia tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Beberapa menit kemudian, bus mulai berjalan meninggalkan terminal. Kulihat Helmi masih berdiri di tempatnya. Semakin jauh, semakin jauh, hingga mataku tidak bisa melihatnya lagi.
            Aku baru sadar jika kursi di sebelahku masih kosong. Bagus! Aku bisa meletakkan kantong plastik berisi makanan ringan yang kubawa dari rumah. Kubuka salah satu makanan ringan dan memakannya hingga aku merasa kenyang.
“Mbak!” Seseorang menepuk tanganku. Aku terbangun. Ternyata aku telah tertidur pulas.
“Eh, kamu siapa?” Kulihat seorang anak perempuan duduk di sebelahku dan memakan beberapa makanan ringanku. Sepertinya dia seusia Romi.
“Namaku Lisa. Makanannya enak.”
“Sini kembaliin! Kemana orangtuamu?”
            Anak perempuan yang bernama Lisa itu menangis ketika aku menanyakan keberadaan orangtuanya. Sontak semua penumpang memandangku. Aku langsung menarik tangannya dan kutepuk punggungnya. Semoga dia bisa sedikit menghentikan tangisannya.
“Permisi, mbak. Silahkan membayar tiket.” Seorang petugas bus menghampiriku.
“Ini pak.” Kuberikan uang yang berjumlah sama dengan harga satu tiket.
“Kalau boleh tahu tujuannya ke mana?”
“Klaten, pak.”
“Loh? Bus ini kan nggak lewat Klaten, nak.”
“Hah? Lalu saya bagaimana pak? Saya nggak mungkin turun di sini, mencari bus kan susah.”
“Berhenti saja di terminal Tirtonadi, Solo. Lalu naik bus jurusan Jogja.”
“Oh, terima kasih pak.”
“Loh? Kok adiknya nggak dibayarin tiket?”
“Saya nggak kenal dia, pak. Sumpah!”
“Lalu kamu anak siapa nak? Kemana orangtuamu?”
            Mendengar petugas bus mengatakan tentang keberadaan orangtuanya, Lisa kembali menangis. Sial. Kuputuskan untuk membayar tiket bus Lisa agar petugas bus segera pergi. Lisa adalaah anak perempuan pembawa kerepotan mendadak yang cukup memusingkan.

***

“Lis, Bangun! Waktunya makan siang.” Bus ini transit di salah satu rumah makan di daerah Nganjuk. Arlojiku menunjukkan pukul dua siang. Pantas saja, cacing di perutku sudah menari.
“Papa, mama, Lisa takut!” Sepertinya dia mengigau. Aku merasa tidak pantas membencinya. Dia begitu merindukan orangtuanya. Kuputuskan untuk mencubit kakinya. Berhasil! Akhirnya dia terbangun.
“Ayo makan siang. Kamu lapar kan?”
            Aku dan Lisa duduk di salah satu bangku yang berada di sudut ruangan rumah makan. Sambil menunggu pesanan, aku membuka ponselku dan menemukan beberapa pesan masuk. Beberapa dari ibu, dari operator, dan Helmy.
“Kirim pesan ke pacarnya ya, mbak?” Tiba – tiba Lisa sudah duduk di sebelahku dan berusaha memperhatikan layar ponselku.
“Ih, mau tau aja. Oh, iya. Ngomong – ngomong, kamu hafal nomor ponsel orangtuamu nggak?”
“Hafal, kak.”
“Tulis nomornya disini!” Aku memberikan ponselku padanya. Dia menelpon orangtuanya.
            Lisa terlihat begitu gembira ketika dia berhasil menelpon orangtuanya. Aku tersenyum melihatnya tertawa. Lalu, dia memberikan ponselku dan menyuruhku agar aku berbicara dengan orangtuanya.
“Halo, mbak. Tolong jaga Lisa, ya. Dia anaknya memang suka ikut dengan orang. Saya minta maaf kalau Lisa banyak merepotkan.”
“Oh, iya nggak masalah tante. Kalau begitu dimana saya bisa mengantarkan Lisa bertemu dengan tante?”
“Di terminal Tirtonadi, mbak.”
“Baiklah, sampai jumpa tante.”
            Aku menutup teleponnya ketika pesanan sudah di depan mata. Kulihat Lisa makan sangat lahap. Aku jadi merindukan Romi. Pasti aku juga merasa khawatir jika Romi berada di posisi Lisa. Pergi ke suatu tempat tanpa pengawasan orangtua.
            Setelah makan, kuputuskan untuk mengajak Lisa berbelanja makanan ringan dan beberapa minuman dingin di supermarket yang berada di sebelah rumah makan. Aku membiarkannya memilih makanan yang dia suka. Dia terlihat sangat gembira ketika kugandeng tangannya.
“Mbak namanya siapa?” Tanya Lisa sambil membuka salah satu makanan ringan. Baru kusadari, sejak tadi aku belum memperkenalkan namaku.
“Aku Martha.”
“Mbak Martha kenapa sendirian? Orangtuanya kemana?” Aku terdiam. Kini aku mengerti bagaimana perasaan Lisa ketika kutanya tentang keberadaan orangtuanya.
“Aku, sendirian.”
            Suasana mendadak hening. Lama kelamaan, Lisa mulai tertidur lagi. Dia terlihat begitu lelah. Aku memutuskan untuk memasang headset ke telingaku dan menyalakan lagu melalui mp3 player milik Helmy. Aku mulai tertidur.
            Brak…!!
            Sopir bus menghentikan bus ini secara mendadak. Kepalaku terbentur tempat duduk di depanku. Pusing, pusing sekali. Kulihat Lisa tersungkur ke depan. Kutarik tubuhnya agar kembali duduk di kursi. Lisa, bangunlah. Kutepuk pipinya, dia tidak kunjung bangun. Kulihat keningnya, ada luka yang memerah. Lisa, sepertinya dia pingsan.
            Bus mulai kehilangan kendali. Histeria mulai terasa di seluruh penjuru bus ini. Aku mendekap tubuh Lisa dengan kuat, melindungi kepalanya. Semua orang berteriak. Tuhan, tolong selamatkan kami! Ayah, ibu, kakak! Ya Tuhan. Barang – barang yang semula tertata rapi, menjadi berserakan. Bus miring ke kiri, aku tidak bisa mengendalikan posisiku. Aku terjatuh dan menimpa orang yang duduk di kursi seberang. Dekapan Lisa terlepas. Bus semakin miring. Semua tubuh manusia di dalam bus ini jatuh tanpa arah. Semua orang kalap, termasuk aku. Harapan, mukjizat, berikanlah pada kami!

***

“Martha,”
            Kudengar seseorang memanggil namaku. Kepalaku masih terasa pening. Kucoba untuk membuka kelopak mataku. Kugerakkan jemariku. Sedikit mati rasa ketika aku menggerakkan jari – jari tangan kiriku.
“Martha, kamu sudah sadar?” Seorang wanita berdiri di sebelahku. Pandanganku tidak begitu jelas, tapi aku yakin wanita itu adalah ibu.
“Ibu,”
“Martha, maafkan ibu.” Ibu memelukku.
“Aku dimana, bu? Kemana Lisa? Aku harus mengantarkannya ke terminal.” Aku langsung bangkit dari tempat tidur ini.
            Aku berjalan keluar kamar perawatan mencari perawat ataupun dokter yang bisa kutanyai. Langkahku gontai. Kakiku masih terasa sakit, juga tanganku. Pantas saja, ada perban di lengan kiriku yang membuat jariku sedikit mati rasa.
            Di papan informasi pasien, kucari nama Lisa. Ketemu! Lisa berada di ruang sebelah papan informasi pasien bertengger. Aku masuk ke ruangan itu. Kulihat Lisa terbaring lemah. Kepalanya terbalut kain.
“Lisa, ini Martha. Bangun!” Aku memegang tangannya.
“Mbak Martha! Lisa nggak mau disini, Lisa ingin bertemu ibu.” Lisa menangis.
            Tiba – tiba ibu berdiri di sebelahku, ikut memegang tangan Lisa. Mungkin ada perasaan heran dalam benak ibu, mengapa anak kecil ini terlihat begitu dekat denganku. Kulihat mata ibu, basah. Air matanya turun.
            Ibu keluar dari kamar Lisa. Entah apa yang tersirat dalam benak ibu, tiba – tiba beberapa orang perawat masuk ke dalam kamar Lisa sambil membawa sebuah kursi roda. Salah satu dari mereka membantu Lisa untuk bangkit dari tempat tidurnya, dan membantunya untuk duduk di kursi roda. Aku keluar dari kamar Lisa untuk mencari ibu. Kulihat ibu sudah membawa tas kecil milikku.
            Setelah menyelesaikan administrasi, aku dan Lisa diperbolehkan pulang. Lisa duduk di atas kursi roda, sehingga ibu terpaksa mendorongnya. Aku hanya tersenyum melihat Lisa begitu senang diberi sekotak jelly oleh ibu. Kami tiba di teras rumah sakit. Terlihat mobil Sedan mendekati kami. Tidak salah lagi, di dalamnya pasti ada ayah yang sedang menyetir. Kami pergi mengantarkan Lisa pulang ke rumahnya.

***

“Nah, kita sudah tiba di terminal Tirtonadi. Dimana rumahmu, Lisa?” Ibu menengok ke arah Lisa.
            Lisa menyebutkan arah untuk tiba di rumahnya, dan ayah mengikuti instruksinya. Rumah Lisa berada pada gang sempit. Akhirnya, kami terpaksa memarkirkan mobil di pinggir jalan dan berjalan menuju ke rumah Lisa. Kami berhenti pada sebuah rumah sederhana yang ramai dikunjungi banyak orang.
            Ayah ingin segera kembali ke Klaten. Untuk itu, kami memutuskan untuk tidak mampir di rumah Lisa. Kami bertemu orang tuanya. Ibu Lisa begitu senang ketika aku berhasil menjaganya selama perjalanan. Aku merasa bersalah. Jika aku bisa menjaganya, rambut Lisa tidak akan terpasang kain perban. Kujelaskan semua kejadian yang menimpa bus yang kami tumpangi. Ibu Lisa menangis terharu.
“Lisa hilang sewaktu di depan toilet, dia naik ke bus yang salah.”. Kata ibu Lisa sambil mendekap anaknya.
            Kami berjalan menuju mobil. Aku sama sekali belum berbicara dengan ayah. Dia berjalan duluan. Hanya ibu yang menggandengku. Aku menengok ke belakang, melihat ke arah Lisa dan ibunya. Mereka melambaikan tangan padaku. Lisa, semoga Tuhan selalu melindungimu.
“Martha, maafkan ayah yang sudah menyuruhmu naik bus.”
“Nggak perlu minta maaf, ayah. Martha senang kok.” Aku menepuk pundak ayah yang sedang menyetir.
            Suasana perjalanan menuju Klaten begitu hening. Kuhilangkan kebosananku dengan melihat pemandangan sepanjang jalanan Boyolali, hingga aku melupakan rasa sakit yang ada di lenganku. Aku bisa membayangkan betapa senangnya aku berkumpul dengan para sepupuku di Klaten. Aku juga bisa membayangkan betapa dinginnya berenang di pemandian Pluneng sambil menikmati megahnya gunung Merapi. Aku bisa merasakan jernihnya aliran sungai disana. Aku begitu mencintai kota kecil ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar