Terkadang bangun pagi di hari libur
adalah hal yang jarang sekali terjadi. Seperti pagi ini. Pagi ini suasana rumah
begitu ricuh. Ibu sibuk menyetrika pakaian sambil berteriak memanggil Romi
untuk segera mandi. Kakak perempuanku yang terkena depresi berat hanya
terbaring di atas tempat tidurnya. Namun sewaktu – waktu, dia tidak ingin kalah
dengan suara ibu dengan meraung – raung sekerasnya. Dan bisa kutebak, ibu pasti
akan memanggil namaku.
Aku berjalan gontai menuju kamar
kakak perempuanku yang berada di kamar belakang. Sebenarnya aku merasa kasihan
dengan kakak yang satu – satunya milikku dan Romi. Beberapa bulan lalu dia
terkena pukulan berat, tepatnya saat pengumuman kelulusan ujian. Kakakku
menjadi seorang diantara tiga siswa yang dinyatakan tidak lulus di SMA tempat
dia belajar. Semua itu diluar dugaan. Selama tiga tahun bersekolah di SMA itu,
dia selalu menjadi juara satu paralel. Dia menjadi salah satu siswa andalan di
kelasnya. Sebagai adik, aku hanya bisa menguatkannya dan menyadarkan kedua
orangtuaku bahwa dibalik musibah, Tuhan memberikan rencana baik untuk umatnya.
“Kak, lihat deh.
Aku bawa bantal kesukaan kakak, Lilo And Stich.” Kuberikan hadiah pemberian
sepupuku itu kepada kakakku.
“Bagus.” Dia
langsung mengambil bantal itu dan memeluknya. Syukurlah, dia tertidur.
Aku keluar dan menutup pintu kamar
kakak secara perlahan. Aku ingin membiarkannya terlelap agar ibu sedikit merasa
tenang. Untuk saat ini saja, aku berharap banyak pada kakak. Sekarang giliranku
menggeret Romi untuk mandi. Dia tidak peduli dengan teriakan ibu dan tetap
asyik dengan PSPnya. Romi.
***
“Martha, ayah
ingin bicara sebentar denganmu.” Kata ayah yang baru saja pulang dari menyewa
mobil untuk kendaraan mudik kami sekeluarga ke Klaten.
“Ada apa ayah?”
“Usia kamu sudah
lima belas tahun, sudah saatnya kamu mandiri.” Mendengar kalimat yang
dilontarkan ayah, aku bagaikan berada di ujung pasak dan ayah siap untuk
membebaskan kehidupanku.
“Maksud ayah?”
“Di musim
lebaran ini, banyak sekali keluarga yang ingin menyewa mobil untuk mudik.
Karena jumlah mobil di setiap persewaan mobil itu terbatas, akhirnya ayah
mendapatkan satu mobil yang berukuran tidak terlalu besar.”
“Mobil apa, ayah?”
Aku bergegas menuju halaman depan rumah, melihat mobil apakah yang disewa oleh
ayah. Tiba – tiba aku terkejut. Mulutku menganga, namun tidak mampu berkata
apapun. Speechless. Apa ayah serius
dengan mudik tahun ini? Ayah hanya menyewa sebuah mobil sedan yang pasti tidak
cukup untuk keluarga kami.
“Maafkan ayah,
nak. Mungkin kali ini ayah harus mengorbankanmu.”
“Ayah tidak
ingat berapa anak yang ayah punya? Ayah tidak ingat bagaimana keadaan kak
Marsya?” Emosiku tersulut. Aku membentaknya. Aku berlari masuk ke kamar, dan
menutup pintu dengan keras. Tangisku pecah. Apa air mataku ini menandakan aku
tidak akan berkumpul dengan sepupuku di Klaten?
Pintu kamarku terbuka. Aku berusaha
tengkurap dan menutupi punggung kepalaku dengan bantal agar isak tangisku tidak
terdengar oleh seseorang yang akan masuk ke kamarku, terutama Romi. Napasku
sesak akibat bantal yang kugunakan untuk menutupi punggung kepalaku. Sebuah
tangan halus memijat pelan kakiku. Aku terbangun dan melihatnya. Ibu. Dia sudah
duduk di tempat tidurku dan masih memijat pelan kakiku. Aku tersenyum.
“Martha, kamu
adalah harapan ayah dan ibu. Kamu harus menuruti perintah ayah.” Ibu mengusap
keningku.
“Ayah nggak
adil, bu.”
“Ayah sudah
berusaha adil. Sekarang giliran kamu, mau menerimanya atau tidak.” Ibu beranjak
dari tempat tidurku dan pergi dari kamarku.
Aku mengerti maksud ibu. Ayah sudah berusaha
untuk menyewa mobil yang lebih besar untuk kami, meskipun Tuhan belum
mengijinkannya. Kuputuskan untuk keluar dari kamar dan menghampiri ayah.
“Ayah, maafkan
Martha.” Aku memeluk ayah yang sedang berdiri dari arah belakang.
“Jadi kamu mau
menuruti permintaan ayah?”
“Ya, ayah.”
“Itu baru
namanya Martha. Oke, apa kamu tidak keberatan jika naik bus sendirian untuk
pergi ke Klaten?”
“Ide bagus! Aku
nggak akan keberatan. Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Untuk ke
terminal Bungurasih, aku ingin Helmy mengantarkanku.”
“Baiklah, tapi
jangan macam – macam ya.”
“Siap!”
***
Menjelang jam 10 pagi, ayah bersama
keluarga mulai berangkat menuju Klaten. Semua barang bawaanku disimpan di dalam
mobil, sehingga aku hanya membawa tas kecil dan kantong plastik berisi makanan
ringan selama perjalanan nanti. Ayah terus mengingatkan Helmy untuk
mengantarkanku dengan selamat menuju terminal Bungurasih. Sebenarnya ini bukan
pertama kalinya Helmy mengantarkanku. Dia juga sering menjemputku ketika
berangkat sekolah.
“Ayahmu sangat
sayang padamu, jadi dia terus mengingatkanku. Ha..ha..” Helmy masih saja
berbicara di tengah perjalanan.
“Hel,
konsentrasi! Kamu kan lagi nyetir!” Aku memarahinya.
Ternyata tanpa ocehan Helmy,
perjalanan menuju ke terminal Bungurasih terasa sangat lama. Aku beberapa kali
hampir tertidur hingga motor sedikit oleng. Syukurlah, Helmy mengerti
keadaanku. Tanpa diminta, Helmy langsung mengeluarkan suaranya dan menyanyikan
beberapa lagu berbahasa Inggris yang entah apa artinya. Sukses! Dia membuatku
tidak lagi tertidur.
Selamat datang di terminal
Bungurasih Surabaya. Hiruk pikuknya suasana terminal membuat Helmy kesulitan
untuk mencari tempat parkir. Faktanya, tempat parkir yang tersedia sudah penuh.
Helmy memutuskan untuk memarkirkan sepeda motornya di sepanjang trotoar. Aku
benci ke terminal pada musim lebaran. Banyak penumpang berjajar di sepanjang
trotoar yang sedang menunggu kedatangan bus. Banyak, banyak sekali! Tidak
terkecuali ibu yang menyusui bayinya. Dia tidak peduli pada setiap orang yang
melihatnya menunjukkan mata air milik bayinya yang ingin menyusu.
“Itu, Hel! Aku
akan naik bus kuning putih itu!” Aku menunjuk bus berwarna kuning bercampur
putih yang baru saja melintas dan berhenti di dekat tempat kami berdiri.
“Tunggu, aku
akan mencari tempat duduk untukmu.” Helmy berlari dan berebut dengan penumpang
lain untuk masuk ke dalam bus. Dia berhasil melewatinya. Dari luar, kulihatnya
telah menemukan tempat duduk dan melambaikan tangan padaku. Aku menghampirinya.
“Hmm… Mar, aku
nggak dapat.” Helmy turun dari bus ketika aku berdiri di depan pintu belakang
bus.
“Loh, tapi tadi
aku melihatmu melambaikan tangan.”
“Sebenarnya aku
dapat, tapi ada nenek – nenek yang membutuhkan tempat duduk. Sabar ya.” Kata
Helmy sambil menggandengku kembali ke tempat semula, di dekat sepeda motor
Helmy.
Sudah hampir satu jam aku berada di
tempat ini. Sesekali aku duduk di trotoar, lalu berdiri lagi. Begitu pula
dengan Helmy. Dia terus memandang ke arah pintu masuk, berharap menemukan bus
yang akan kunaiki. Helmy, maafkan aku yang sangat merepotkanmu.
“Mar, pasti kamu
membutuhkan mp3 player ini untuk menemani perjalananmu.” Helmy memberikan mp3
playernya padaku.
“Thanks, Hel.”
“Hei, itu
busnya!” Helmy mengejar bus berwana kuning bercampur putih itu. Dia kembali
berebut dengan penumpang lain untuk bisa mendapatkan tempat duduk di dalam bus.
Dia kembali melambaikan tangan padaku dari salah satu deretan tempat duduk. Aku
menghampirinya.
“Sekarang kamu
bisa berangkat. Hati – hati ya! Aku pasti merindukanmu.” Kata Helmy sambil
mempersilahkanku duduk di tempat duduk yang dipilihnya. Bangku nomor tiga dari
depan sebelah kanan dekat jendela.
“Thanks ya, Hel.
Do’akan aku sampai di Klaten. Aku takut tersesat. Ha.ha..ha..” Kami berdua
bersalaman. Dia membelai poniku, lalu mengacak – acaknya. Uh!
Helmy berjalan keluar bus.
Kulihatnya berdiri di pinggir trotoar. Sesekali dia tersenyum dan melambaikan
tangan padaku. Beberapa menit kemudian, bus mulai berjalan meninggalkan
terminal. Kulihat Helmi masih berdiri di tempatnya. Semakin jauh, semakin jauh,
hingga mataku tidak bisa melihatnya lagi.
Aku baru sadar jika kursi di
sebelahku masih kosong. Bagus! Aku bisa meletakkan kantong plastik berisi
makanan ringan yang kubawa dari rumah. Kubuka salah satu makanan ringan dan
memakannya hingga aku merasa kenyang.
“Mbak!”
Seseorang menepuk tanganku. Aku terbangun. Ternyata aku telah tertidur pulas.
“Eh, kamu
siapa?” Kulihat seorang anak perempuan duduk di sebelahku dan memakan beberapa
makanan ringanku. Sepertinya dia seusia Romi.
“Namaku Lisa.
Makanannya enak.”
“Sini kembaliin!
Kemana orangtuamu?”
Anak perempuan yang bernama Lisa itu
menangis ketika aku menanyakan keberadaan orangtuanya. Sontak semua penumpang
memandangku. Aku langsung menarik tangannya dan kutepuk punggungnya. Semoga dia
bisa sedikit menghentikan tangisannya.
“Permisi, mbak.
Silahkan membayar tiket.” Seorang petugas bus menghampiriku.
“Ini pak.”
Kuberikan uang yang berjumlah sama dengan harga satu tiket.
“Kalau boleh
tahu tujuannya ke mana?”
“Klaten, pak.”
“Loh? Bus ini
kan nggak lewat Klaten, nak.”
“Hah? Lalu saya
bagaimana pak? Saya nggak mungkin turun di sini, mencari bus kan susah.”
“Berhenti saja
di terminal Tirtonadi, Solo. Lalu naik bus jurusan Jogja.”
“Oh, terima
kasih pak.”
“Loh? Kok
adiknya nggak dibayarin tiket?”
“Saya nggak
kenal dia, pak. Sumpah!”
“Lalu kamu anak
siapa nak? Kemana orangtuamu?”
Mendengar petugas bus mengatakan
tentang keberadaan orangtuanya, Lisa kembali menangis. Sial. Kuputuskan untuk
membayar tiket bus Lisa agar petugas bus segera pergi. Lisa adalaah anak
perempuan pembawa kerepotan mendadak yang cukup memusingkan.
***
“Lis, Bangun!
Waktunya makan siang.” Bus ini transit di salah satu rumah makan di daerah
Nganjuk. Arlojiku menunjukkan pukul dua siang. Pantas saja, cacing di perutku
sudah menari.
“Papa, mama,
Lisa takut!” Sepertinya dia mengigau. Aku merasa tidak pantas membencinya. Dia
begitu merindukan orangtuanya. Kuputuskan untuk mencubit kakinya. Berhasil!
Akhirnya dia terbangun.
“Ayo makan
siang. Kamu lapar kan?”
Aku dan Lisa duduk di salah satu
bangku yang berada di sudut ruangan rumah makan. Sambil menunggu pesanan, aku
membuka ponselku dan menemukan beberapa pesan masuk. Beberapa dari ibu, dari
operator, dan Helmy.
“Kirim pesan ke
pacarnya ya, mbak?” Tiba – tiba Lisa sudah duduk di sebelahku dan berusaha
memperhatikan layar ponselku.
“Ih, mau tau
aja. Oh, iya. Ngomong – ngomong, kamu hafal nomor ponsel orangtuamu nggak?”
“Hafal, kak.”
“Tulis nomornya
disini!” Aku memberikan ponselku padanya. Dia menelpon orangtuanya.
Lisa terlihat begitu gembira ketika
dia berhasil menelpon orangtuanya. Aku tersenyum melihatnya tertawa. Lalu, dia
memberikan ponselku dan menyuruhku agar aku berbicara dengan orangtuanya.
“Halo, mbak.
Tolong jaga Lisa, ya. Dia anaknya memang suka ikut dengan orang. Saya minta
maaf kalau Lisa banyak merepotkan.”
“Oh, iya nggak
masalah tante. Kalau begitu dimana saya bisa mengantarkan Lisa bertemu dengan
tante?”
“Di terminal
Tirtonadi, mbak.”
“Baiklah, sampai
jumpa tante.”
Aku menutup teleponnya ketika
pesanan sudah di depan mata. Kulihat Lisa makan sangat lahap. Aku jadi
merindukan Romi. Pasti aku juga merasa khawatir jika Romi berada di posisi
Lisa. Pergi ke suatu tempat tanpa pengawasan orangtua.
Setelah makan, kuputuskan untuk
mengajak Lisa berbelanja makanan ringan dan beberapa minuman dingin di
supermarket yang berada di sebelah rumah makan. Aku membiarkannya memilih
makanan yang dia suka. Dia terlihat sangat gembira ketika kugandeng tangannya.
“Mbak namanya
siapa?” Tanya Lisa sambil membuka salah satu makanan ringan. Baru kusadari,
sejak tadi aku belum memperkenalkan namaku.
“Aku Martha.”
“Mbak Martha
kenapa sendirian? Orangtuanya kemana?” Aku terdiam. Kini aku mengerti bagaimana
perasaan Lisa ketika kutanya tentang keberadaan orangtuanya.
“Aku,
sendirian.”
Suasana mendadak hening. Lama
kelamaan, Lisa mulai tertidur lagi. Dia terlihat begitu lelah. Aku memutuskan
untuk memasang headset ke telingaku dan menyalakan lagu melalui mp3 player
milik Helmy. Aku mulai tertidur.
Brak…!!
Sopir bus menghentikan bus ini
secara mendadak. Kepalaku terbentur tempat duduk di depanku. Pusing, pusing
sekali. Kulihat Lisa tersungkur ke depan. Kutarik tubuhnya agar kembali duduk
di kursi. Lisa, bangunlah. Kutepuk pipinya, dia tidak kunjung bangun. Kulihat
keningnya, ada luka yang memerah. Lisa, sepertinya dia pingsan.
Bus mulai kehilangan kendali.
Histeria mulai terasa di seluruh penjuru bus ini. Aku mendekap tubuh Lisa
dengan kuat, melindungi kepalanya. Semua orang berteriak. Tuhan, tolong
selamatkan kami! Ayah, ibu, kakak! Ya Tuhan. Barang – barang yang semula
tertata rapi, menjadi berserakan. Bus miring ke kiri, aku tidak bisa mengendalikan
posisiku. Aku terjatuh dan menimpa orang yang duduk di kursi seberang. Dekapan
Lisa terlepas. Bus semakin miring. Semua tubuh manusia di dalam bus ini jatuh
tanpa arah. Semua orang kalap, termasuk aku. Harapan, mukjizat, berikanlah pada
kami!
***
“Martha,”
Kudengar seseorang memanggil namaku.
Kepalaku masih terasa pening. Kucoba untuk membuka kelopak mataku. Kugerakkan
jemariku. Sedikit mati rasa ketika aku menggerakkan jari – jari tangan kiriku.
“Martha, kamu
sudah sadar?” Seorang wanita berdiri di sebelahku. Pandanganku tidak begitu
jelas, tapi aku yakin wanita itu adalah ibu.
“Ibu,”
“Martha, maafkan
ibu.” Ibu memelukku.
“Aku dimana, bu?
Kemana Lisa? Aku harus mengantarkannya ke terminal.” Aku langsung bangkit dari
tempat tidur ini.
Aku berjalan keluar kamar perawatan
mencari perawat ataupun dokter yang bisa kutanyai. Langkahku gontai. Kakiku
masih terasa sakit, juga tanganku. Pantas saja, ada perban di lengan kiriku
yang membuat jariku sedikit mati rasa.
Di papan informasi pasien, kucari
nama Lisa. Ketemu! Lisa berada di ruang sebelah papan informasi pasien
bertengger. Aku masuk ke ruangan itu. Kulihat Lisa terbaring lemah. Kepalanya
terbalut kain.
“Lisa, ini
Martha. Bangun!” Aku memegang tangannya.
“Mbak Martha!
Lisa nggak mau disini, Lisa ingin bertemu ibu.” Lisa menangis.
Tiba – tiba ibu berdiri di
sebelahku, ikut memegang tangan Lisa. Mungkin ada perasaan heran dalam benak
ibu, mengapa anak kecil ini terlihat begitu dekat denganku. Kulihat mata ibu,
basah. Air matanya turun.
Ibu keluar dari kamar Lisa. Entah
apa yang tersirat dalam benak ibu, tiba – tiba beberapa orang perawat masuk ke
dalam kamar Lisa sambil membawa sebuah kursi roda. Salah satu dari mereka
membantu Lisa untuk bangkit dari tempat tidurnya, dan membantunya untuk duduk
di kursi roda. Aku keluar dari kamar Lisa untuk mencari ibu. Kulihat ibu sudah
membawa tas kecil milikku.
Setelah menyelesaikan administrasi,
aku dan Lisa diperbolehkan pulang. Lisa duduk di atas kursi roda, sehingga ibu
terpaksa mendorongnya. Aku hanya tersenyum melihat Lisa begitu senang diberi
sekotak jelly oleh ibu. Kami tiba di teras rumah sakit. Terlihat mobil Sedan
mendekati kami. Tidak salah lagi, di dalamnya pasti ada ayah yang sedang
menyetir. Kami pergi mengantarkan Lisa pulang ke rumahnya.
***
“Nah, kita sudah
tiba di terminal Tirtonadi. Dimana rumahmu, Lisa?” Ibu menengok ke arah Lisa.
Lisa menyebutkan arah untuk tiba di
rumahnya, dan ayah mengikuti instruksinya. Rumah Lisa berada pada gang sempit.
Akhirnya, kami terpaksa memarkirkan mobil di pinggir jalan dan berjalan menuju
ke rumah Lisa. Kami berhenti pada sebuah rumah sederhana yang ramai dikunjungi
banyak orang.
Ayah ingin segera kembali ke Klaten.
Untuk itu, kami memutuskan untuk tidak mampir di rumah Lisa. Kami bertemu orang
tuanya. Ibu Lisa begitu senang ketika aku berhasil menjaganya selama
perjalanan. Aku merasa bersalah. Jika aku bisa menjaganya, rambut Lisa tidak
akan terpasang kain perban. Kujelaskan semua kejadian yang menimpa bus yang
kami tumpangi. Ibu Lisa menangis terharu.
“Lisa hilang
sewaktu di depan toilet, dia naik ke bus yang salah.”. Kata ibu Lisa sambil
mendekap anaknya.
Kami berjalan menuju mobil. Aku sama
sekali belum berbicara dengan ayah. Dia berjalan duluan. Hanya ibu yang
menggandengku. Aku menengok ke belakang, melihat ke arah Lisa dan ibunya.
Mereka melambaikan tangan padaku. Lisa, semoga Tuhan selalu melindungimu.
“Martha, maafkan
ayah yang sudah menyuruhmu naik bus.”
“Nggak perlu
minta maaf, ayah. Martha senang kok.” Aku menepuk pundak ayah yang sedang
menyetir.
Suasana perjalanan menuju Klaten
begitu hening. Kuhilangkan kebosananku dengan melihat pemandangan sepanjang
jalanan Boyolali, hingga aku melupakan rasa sakit yang ada di lenganku. Aku
bisa membayangkan betapa senangnya aku berkumpul dengan para sepupuku di
Klaten. Aku juga bisa membayangkan betapa dinginnya berenang di pemandian
Pluneng sambil menikmati megahnya gunung Merapi. Aku bisa merasakan jernihnya
aliran sungai disana. Aku begitu mencintai kota kecil ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar