Tia, Ustin, dan Marsya bersahabat
sejak kelas 1 SMA di daerah Surabaya. Mereka semua adalah para perantau yang
bertemu di sebuah sekolah yang sama. Mungkin Tuhan telah mentakdirkan mereka
untuk bersama, akhirnya mereka memilih untuk menyewa sebuah kamar kost yang
berukuran paling luas agar mereka bisa tinggal bersama.
“Nggak terasa sudah dua tahun kita
hidup bertiga. Aku berharap kuliah nanti kita juga masih bisa seperti ini.”
Kata Ustin sambil melipat beberapa pakaiannya.
“Aku juga ingin seperti itu. Kalian
semua sudah kuanggap sebagai keluarga.” Jawab Tia yang sejak tadi masih sibuk
memainkan jemarinya di atas keyboard laptopnya.
“Keluarga? Ti, apa kamu sudah baikan
dengan orangtuamu?”.
Pertanyaan Ustin membuat jemari Tia
membeku. Matanya masih tertuju pada draft di layar laptopnya, tanpa melihat
Ustin sedikitpun. Sudah beberapa bulan Tia memutuskan tidak pulang ke rumah dan
tidak pernah mengambil uang dari orangtuanya semenjak Tita, adik kesayangannya
yang belum genap berusia lima tahun menghilang setelah pulang sekolah. Tia
menuduh kedua orangtuanya tidak bisa menjaga anaknya.
“Ti, sampai kapan kamu membenci
mereka?” Tanya Ustin yang memilih untuk duduk di samping Tia.
“Sampai aku menemukan adikku. Gajiku
menjadi penulis cerpen di koran masih cukup untuk membiayai sekolahku.”
“Seharusnya kamu merasa beruntung,
Ti. Coba lihat nasib Marsya, dia terpaksa pulang karena ayahnya yang sakit –
sakitan. Pikirkan sekali lagi ucapanmu.” Kata Ustin sambil menarik selimutnya,
lalu tidur. Kamu nggak pernah merasakan punya ibu tiri, Ustin. Ucap Tia dalam
benaknya.
***
Pagi ini Tia dan Ustin berangkat
sekolah tanpa Marsya ditengah mereka. Karena sekolah mereka hanya berjarak 1
kilometer dari tempat kost, mereka memilih untuk berjalan kaki. Menurut mereka,
berjalan kaki itu lebih seru dan bisa menikmati suasana pinggiran Surabaya di
waktu pagi. Menyejukkan.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di
depan sekolah mereka, SMA Persahabatan Surabaya. Karena mereka berada di kelas
yang berbeda, kebersamaan mereka pun terpecah ketika melewati koridor utama.
Tia yang berada di kelas XII IPA 3 harus berbelok ke arah kiri koridor,
sedangkan Ustin yang berada di kelas XII IPS 1 masih harus berjalan lurus
menyusuri koridor utama.
Belum sempat menginjakkan kaki di
tangga, tiba – tiba dari arah belakang seorang guru memanggil Tia. Bu Uswa.
Langkah Tia terhenti.
“Mutia, boleh saya bicara sebentar?”
Tanya bu Uswa sambil memegang tangan kanan Tia dan mengajaknya duduk di salah
satu kursi di koridor.
“Kalau boleh tahu, tentang apa,
bu?”. Tia ketakutan. Bu Uswa adalah guru Fisikanya, dan nilainya sangat payah
di bidang Fisika.
“Ini tentang Marsya.”. Jawab bu
Uswa. Tia menarik napas panjang. Lega. Dia baru menyadari jika bu Uswa adalah
wali kelas Marsya. “Sudah tiga bulan Marsya tidak membayar SPP, dan hampir
sebulan dia tidak masuk sekolah. Apa dia sakit? Saya berharap kamu bisa
membantu saya dalam mengatasi masalah Marsya.”. Kata bu Uswa.
“Sebenarnya Marsya sedang pulang ke
Tuban, bu. Ayahnya sedang sakit keras. Mungkin tentang SPP masih ada
hubungannya dengan kepulangan Marsya.”. Jawabnya.
“Kalau begitu terima kasih atas
infonya ya, nak. Saya akan memberitahukan masalah Marsya ke wakil kepala
sekolah agar dia tetap bisa sekolah.” Kata bu Uswa yang mulai berdiri, dan
pergi meninggalkannya.
Tia mulai memikirkan keberadaan
Marsya yang belum juga kembali ke Surabaya. Marsya juga tidak memiliki
handphone. Sehingga, dia tidak bisa mengetahui kabar Marsya disana. Tujuan dari
sebuah persahabatan adalah membantu disaat sahabatnya tertimpa masalah. Namun
kini Tia merasa dirinya tidak berguna.
***
“Tin, menurutmu kapan Marsya kembali
ke Surabaya?”. Tanya Tia sambil menyeruput segelas es degan di warung depan
sekolahnya.
“Entahlah. Kita juga nggak tahu
alamat rumahnya.” Jawab Ustin yang masih sibuk mengupas sebutir telur puyuh
kesukaannya.
“Tadi bu Uswa menegurku tentang
masalah Marsya.”
“Lalu?”
“Sepertinya pihak sekolah mau
membantu Marsya.”
“Uhm. Ti, kalau hari ini kamu pulang
sendirian nggak masalah, kan? Aku harus ke panti asuhan untuk menyalurkan
sumbangan dari teman – teman sekelasku.” Kata Ustin yang telah menghabiskan
sebungkus telur puyuh.
“Oh. Silahkan.” Jawab Tia.
Ustin mulai pergi bersama teman –
teman sekelasnya. Kelas XII IPS 1 memang terkenal akan kekayaan dan kedermawanan
siswanya. Setiap dua bulan sekali mereka menyisihkan harta mereka untuk
diberikan kepada anak – anak yang tidak seberuntung mereka. Mereka
memberikannya kepada anak – anak panti asuhan.
Tiba – tiba handphone Tia bergetar,
tanda ada sebuah pesan masuk ke handphonenya. Dari redaktur sebuah majalah
remaja bulanan. Tia baru menyadari jika bulan ini dia belum menyetorkan
cerpennya ke majalah itu. Dengan tergesa – gesa, dia pulang ke kostnya. Dia
segera bersiap pergi ke kantor pos untuk mengirim cerpennya.
***
“Ti, mau lihat foto – fotoku dengan
beberapa anak panti nggak?” Tanya Ustin sambil memainkan laptop Tia. Tia
mengangguk.
Ustin
mulai membuka folder fotonya, dan menunjukkan satu persatu fotonya. Terlihat
keakraban antara anak – anak panti asuhan dengan para siswa kelas XII IPS 1.
Mereka semua sangat mudah membaur.
“Ini
fotoku bersama salah satu anak yang baru bergabung di panti asuhan itu.” Kata
Ustin. Tiba – tiba, Tia terkejut dan menarik laptopnya dan berusaha
memperhatikan foto itu. “Ah, kamu terpesona melihat fotoku?”.Tanya Ustin sambil
menyenggol lengan Tia.
“Dia
seperti Tita, adikku! Bisakah besok kamu mengantarkanku ke panti asuhan itu,
Tin?”. Perlahan air mata Tia menetes dan tangispun tidak bisa ditahan lagi.
Mungkin sudah menjadi kebiasaan, Ustin langsung memeluk Tia. Dia mencoba menenangkan
hati Tia yang sangat merindukan adiknya. Dia benar – benar sahabat yang baik
yang berusaha agar kesedihan pudar dari kehidupan sahabatnya.
***
Sepulang sekolah, Tia dan Ustin
berangkat ke panti asuhan untuk menjemput Tita. Perjalanan yang cukup jauh
tidak menghapuskan niat mereka untuk pergi ke sana. Memang, suasana kota
Surabaya di siang hari sangatlah panas, apalagi pukul 1 siang.
“Akhirnya, kita sampai juga.” Kata
Ustin sambil melepaskan helmnya, begitu pula Tia. Mereka berjalan menuju bangunan
sederhana namun terlihat sangat rindang dengan adanya taman di sekitar bangunan
itu. Suasana panti asuhan itu sangat lengang. Mungkin para penguni sedang
tidur. Pikir Tia.
Seorang wanita paruh baya menyambut
hangat kedatangan mereka berdua. Ustin yang lebih dulu mengenalnya,
memperkenalkan Tia kepada wanita itu yang tidak lain adalah pemilik panti
asuhan.
“Saya ingin bertemu adik saya, bu.
Namanya Tita.”. Kata Tia. Pemilik panti itupun mengajak mereka berdua ke sebuah
ruangan. Terlihat para anak – anak penghuni panti asuhan sedang belajar
bersama. Dia tertarik dengan beberapa anak yang sedang menari tarian Udang
Windu, khas Sidoarjo. Dia menghampiri mereka.
“Tita!”. Kata Tia pada salah satu
anak yang sedang menari. Betapa terkejutnya ketika dia benar – benar menemukan
adiknya di tempat ini. Dia sangat mengenali wajah adik kesayangannya.
“Mbak Tia!”. Tita langsung
menghampirinya. Tia langsung menggendong dan memeluk adiknya itu. Suasana
ruangan menjadi hening dan semua memperhatikan mereka berdua. Tangisanpun
menghiasi suasana saat itu. Sebuah kasih sayang yang begitu besar, yang tidak
pudar seiring terpisahnya keadaan.
Tia menyadari jika adiknya
membutuhkan teman dan pendidikan. Dia merasa sulit untuk merawatnya sendirian
di sela – sela kegiatan sekolahnya. Dia menginginkan seseorang mengawasi
adiknya. Sehingga, dia memutuskan untuk menitipkan adiknya di panti asuhan itu
dan mengunjunginya setiap akhir pekan. Menurutnya, itulah yang terbaik.
***
“Tia, tolong berikan surat ini pada
Marsya.”. Kata bu Uswa sambil memberikan sebuah surat dari sekolah. “Marsya
mendapat beasiswa anak kurang mampu. Saya berharap dia bisa melanjutkan
sekolahnya.”. Lanjutnya.
Tia dan Ustin tidak bisa berkata
apapun ketika surat itu berada di depan mereka. Bu Uswa juga memberikan alamat
Marsya di Tuban. Mereka kini bersemangat untuk bertemu dengan sahabat mereka.
Sebelum bel masuk kelas berbunyi, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali
pulang ke kost dan segera berkemas untuk pergi ke Tuban.
“Kita bisa naik bus untuk pergi ke
sana, Tin.”. Kata Tia sambil mengambil tas sekolahnya. Mereka pergi ke kost.
Mereka membawa uang dan barang
seadanya. Dengan mengendarai sepeda motor Ustin, mereka pergi ke terminal
Bungurasih yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kost. Syukurlah,
keadaan terminal tidak terlalu ramai. Sehingga, dengan mudahnya mereka
menemukan bus menuju ke Tuban dan mendapatkan tempat duduk. Terbayang di wajah
mereka tentang betapa cerewetnya Marsya ketika memarahi mereka karena telah
mengunjunginya. Mereka berdua tersenyum bahagia.
Kota demi kota telah dilewati, dan
akhirnya mereka tiba di terminal Tuban. Karena benar – benar buta tentang kota
itu, akhirnya mereka bertanya pada seorang tukang becak. Dia berkata pada
mereka jika alamat Marsya tidak jauh dari terminal ini. Tukang becak itupun
bersedia mengantarkan mereka berdua.
***
Mereka tiba di depan sebuah rumah
sederhana di perkampungan belakang terminal. Ustin mulai mengetuk pintu rumah
itu. Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya membuka pintu. Mereka
berdua terkejut melihat keadaan pria itu yang terlihat sehat. Syukurlah, ayah
Marsya telah sembuh. Batin Tia.
“Pasti kalian temannya Marsya. Saya
pernah lihat foto kalian bersama anak saya. Silahkan masuk.” Kata pria itu
sambil mempersilahkan mereka. Mereka bertiga membicarakan banyak tentang Marsya
dan Ustin memberikan surat titipan bu Uswa.
“Sebenarnya, sekarang Marsya sudah
punya rumah sendiri. Ayo kita kesana.”. Bersama ayah dan ibu Marsya, mereka
pergi menemui Marsya.
Mereka tiba di depan sebuah pintu
masuk pemakaman Kristen. Ayah dan ibu Marsya menuju ke sebuah makam yang masih
segar, lengkap dengan nisan yang terlihat masih baru. Dia duduk di sebelah
makam itu. Tia dan Ustin mendekat, dan membaca identitas di nisan itu. Tertulis
nama Marsya disana. Tia duduk bersimpuh sambil memeluk nisan Marsya, dan Ustin
pun tidak bisa menahan air matanya lagi. Air mata menghujani peristirahatan
Marsya di senja itu. Mereka kehilangan seorang sahabat terbaik yang pernah
mereka miliki.
Marsya memutuskan untuk pulang ke
Tuban setelah mendengar keadaan hati ayah yang semakin memburuk. Saat itu ibu
Marsya sudah putus asa untuk membawa suaminya berobat. Terlalu banyak hutang
yang terus digali oleh mereka, namun tidak ada satupun yang bisa ditutup. Suatu
malam, Marsya membawa ayahnya ke rumah sakit umum di kota itu. Tidak ada
satupun yang tahu jika Marsya telah menyumbangkan hati untuk ayahnya. Tertulis
di surat terakhirnya, dia juga ingin menjual organ tubuhnya untuk melunasi
hutang orangtuanya. Malaikat keluarganya itu, kini telah pergi dengan cara yang
indah.
Tia mulai teringat segala petuah
Marsya tentang betapa berartinya orangtua, seburuk apapun itu. Dia mulai
tersadar jika sebuah kesalahan besar adalah membenci ibu tiri dan ayahnya.
Tuhan benar – benar menganugerahkan Marsya sebagai udara sejuk diantara Tia dan
Ustin. Karena bujukan Marsya, Ustin tidak berat hati untuk mengikuti kegiatan
para siswa XII IPS 1 untuk berbagi bersama para penghuni panti asuhan. Di bawah
tanah merah itu, Yohana Marsya telah tertidur manis bersama segala perbuatan
baiknya. Meskipun mereka tidak bisa menyentuhnya, namun mereka yakin Marsya
masih berada ditengah mereka.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar