Sabtu, 28 Desember 2013

Takdir dan Perpisahan



Terkadang sebuah perpisahan adalah ujian bagi sebuah jalinan persahabatan. Setelah pertemuan menjadikan mereka mengenal satu sama lain dan menumbuhkan naluri untuk saling melindungi. Namun bumi selalu berputar, dan waktu tidak akan berjalan mundur. mereka sadar suatu saat takdir akan memisahkan. Untuk itu, mereka ingin memberikan hari – hari indah bagi persahabatan mereka, setidaknya sebelum takdir benar – benar memisahkan.
            Tia, Ustin, dan Marsya bersahabat sejak kelas 1 SMA di daerah Surabaya. Mereka semua adalah para perantau yang bertemu di sebuah sekolah yang sama. Mungkin Tuhan telah mentakdirkan mereka untuk bersama, akhirnya mereka memilih untuk menyewa sebuah kamar kost yang berukuran paling luas agar mereka bisa tinggal bersama.
            “Nggak terasa sudah dua tahun kita hidup bertiga. Aku berharap kuliah nanti kita juga masih bisa seperti ini.” Kata Ustin sambil melipat beberapa pakaiannya.
            “Aku juga ingin seperti itu. Kalian semua sudah kuanggap sebagai keluarga.” Jawab Tia yang sejak tadi masih sibuk memainkan jemarinya di atas keyboard laptopnya.
            “Keluarga? Ti, apa kamu sudah baikan dengan orangtuamu?”.
            Pertanyaan Ustin membuat jemari Tia membeku. Matanya masih tertuju pada draft di layar laptopnya, tanpa melihat Ustin sedikitpun. Sudah beberapa bulan Tia memutuskan tidak pulang ke rumah dan tidak pernah mengambil uang dari orangtuanya semenjak Tita, adik kesayangannya yang belum genap berusia lima tahun menghilang setelah pulang sekolah. Tia menuduh kedua orangtuanya tidak bisa menjaga anaknya.
            “Ti, sampai kapan kamu membenci mereka?” Tanya Ustin yang memilih untuk duduk di samping Tia.
            “Sampai aku menemukan adikku. Gajiku menjadi penulis cerpen di koran masih cukup untuk membiayai sekolahku.”
            “Seharusnya kamu merasa beruntung, Ti. Coba lihat nasib Marsya, dia terpaksa pulang karena ayahnya yang sakit – sakitan. Pikirkan sekali lagi ucapanmu.” Kata Ustin sambil menarik selimutnya, lalu tidur. Kamu nggak pernah merasakan punya ibu tiri, Ustin. Ucap Tia dalam benaknya.

***

            Pagi ini Tia dan Ustin berangkat sekolah tanpa Marsya ditengah mereka. Karena sekolah mereka hanya berjarak 1 kilometer dari tempat kost, mereka memilih untuk berjalan kaki. Menurut mereka, berjalan kaki itu lebih seru dan bisa menikmati suasana pinggiran Surabaya di waktu pagi. Menyejukkan.
            Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan sekolah mereka, SMA Persahabatan Surabaya. Karena mereka berada di kelas yang berbeda, kebersamaan mereka pun terpecah ketika melewati koridor utama. Tia yang berada di kelas XII IPA 3 harus berbelok ke arah kiri koridor, sedangkan Ustin yang berada di kelas XII IPS 1 masih harus berjalan lurus menyusuri koridor utama.
            Belum sempat menginjakkan kaki di tangga, tiba – tiba dari arah belakang seorang guru memanggil Tia. Bu Uswa. Langkah Tia terhenti.
            “Mutia, boleh saya bicara sebentar?” Tanya bu Uswa sambil memegang tangan kanan Tia dan mengajaknya duduk di salah satu kursi di koridor.
            “Kalau boleh tahu, tentang apa, bu?”. Tia ketakutan. Bu Uswa adalah guru Fisikanya, dan nilainya sangat payah di bidang Fisika.
            “Ini tentang Marsya.”. Jawab bu Uswa. Tia menarik napas panjang. Lega. Dia baru menyadari jika bu Uswa adalah wali kelas Marsya. “Sudah tiga bulan Marsya tidak membayar SPP, dan hampir sebulan dia tidak masuk sekolah. Apa dia sakit? Saya berharap kamu bisa membantu saya dalam mengatasi masalah Marsya.”. Kata bu Uswa.
            “Sebenarnya Marsya sedang pulang ke Tuban, bu. Ayahnya sedang sakit keras. Mungkin tentang SPP masih ada hubungannya dengan kepulangan Marsya.”. Jawabnya.
            “Kalau begitu terima kasih atas infonya ya, nak. Saya akan memberitahukan masalah Marsya ke wakil kepala sekolah agar dia tetap bisa sekolah.” Kata bu Uswa yang mulai berdiri, dan pergi meninggalkannya.
            Tia mulai memikirkan keberadaan Marsya yang belum juga kembali ke Surabaya. Marsya juga tidak memiliki handphone. Sehingga, dia tidak bisa mengetahui kabar Marsya disana. Tujuan dari sebuah persahabatan adalah membantu disaat sahabatnya tertimpa masalah. Namun kini Tia merasa dirinya tidak berguna.

***

            “Tin, menurutmu kapan Marsya kembali ke Surabaya?”. Tanya Tia sambil menyeruput segelas es degan di warung depan sekolahnya.
            “Entahlah. Kita juga nggak tahu alamat rumahnya.” Jawab Ustin yang masih sibuk mengupas sebutir telur puyuh kesukaannya.
            “Tadi bu Uswa menegurku tentang masalah Marsya.”
            “Lalu?”
            “Sepertinya pihak sekolah mau membantu Marsya.”
            “Uhm. Ti, kalau hari ini kamu pulang sendirian nggak masalah, kan? Aku harus ke panti asuhan untuk menyalurkan sumbangan dari teman – teman sekelasku.” Kata Ustin yang telah menghabiskan sebungkus telur puyuh.
            “Oh. Silahkan.” Jawab Tia.
            Ustin mulai pergi bersama teman – teman sekelasnya. Kelas XII IPS 1 memang terkenal akan kekayaan dan kedermawanan siswanya. Setiap dua bulan sekali mereka menyisihkan harta mereka untuk diberikan kepada anak – anak yang tidak seberuntung mereka. Mereka memberikannya kepada anak – anak panti asuhan.
            Tiba – tiba handphone Tia bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk ke handphonenya. Dari redaktur sebuah majalah remaja bulanan. Tia baru menyadari jika bulan ini dia belum menyetorkan cerpennya ke majalah itu. Dengan tergesa – gesa, dia pulang ke kostnya. Dia segera bersiap pergi ke kantor pos untuk mengirim cerpennya.

***

            “Ti, mau lihat foto – fotoku dengan beberapa anak panti nggak?” Tanya Ustin sambil memainkan laptop Tia. Tia mengangguk.
Ustin mulai membuka folder fotonya, dan menunjukkan satu persatu fotonya. Terlihat keakraban antara anak – anak panti asuhan dengan para siswa kelas XII IPS 1. Mereka semua sangat mudah membaur.
“Ini fotoku bersama salah satu anak yang baru bergabung di panti asuhan itu.” Kata Ustin. Tiba – tiba, Tia terkejut dan menarik laptopnya dan berusaha memperhatikan foto itu. “Ah, kamu terpesona melihat fotoku?”.Tanya Ustin sambil menyenggol lengan Tia.
“Dia seperti Tita, adikku! Bisakah besok kamu mengantarkanku ke panti asuhan itu, Tin?”. Perlahan air mata Tia menetes dan tangispun tidak bisa ditahan lagi. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, Ustin langsung memeluk Tia. Dia mencoba menenangkan hati Tia yang sangat merindukan adiknya. Dia benar – benar sahabat yang baik yang berusaha agar kesedihan pudar dari kehidupan sahabatnya.

***

            Sepulang sekolah, Tia dan Ustin berangkat ke panti asuhan untuk menjemput Tita. Perjalanan yang cukup jauh tidak menghapuskan niat mereka untuk pergi ke sana. Memang, suasana kota Surabaya di siang hari sangatlah panas, apalagi pukul 1 siang.
            “Akhirnya, kita sampai juga.” Kata Ustin sambil melepaskan helmnya, begitu pula Tia. Mereka berjalan menuju bangunan sederhana namun terlihat sangat rindang dengan adanya taman di sekitar bangunan itu. Suasana panti asuhan itu sangat lengang. Mungkin para penguni sedang tidur. Pikir Tia.
            Seorang wanita paruh baya menyambut hangat kedatangan mereka berdua. Ustin yang lebih dulu mengenalnya, memperkenalkan Tia kepada wanita itu yang tidak lain adalah pemilik panti asuhan.
            “Saya ingin bertemu adik saya, bu. Namanya Tita.”. Kata Tia. Pemilik panti itupun mengajak mereka berdua ke sebuah ruangan. Terlihat para anak – anak penghuni panti asuhan sedang belajar bersama. Dia tertarik dengan beberapa anak yang sedang menari tarian Udang Windu, khas Sidoarjo. Dia menghampiri mereka.
            “Tita!”. Kata Tia pada salah satu anak yang sedang menari. Betapa terkejutnya ketika dia benar – benar menemukan adiknya di tempat ini. Dia sangat mengenali wajah adik kesayangannya.
            “Mbak Tia!”. Tita langsung menghampirinya. Tia langsung menggendong dan memeluk adiknya itu. Suasana ruangan menjadi hening dan semua memperhatikan mereka berdua. Tangisanpun menghiasi suasana saat itu. Sebuah kasih sayang yang begitu besar, yang tidak pudar seiring terpisahnya keadaan.
            Tia menyadari jika adiknya membutuhkan teman dan pendidikan. Dia merasa sulit untuk merawatnya sendirian di sela – sela kegiatan sekolahnya. Dia menginginkan seseorang mengawasi adiknya. Sehingga, dia memutuskan untuk menitipkan adiknya di panti asuhan itu dan mengunjunginya setiap akhir pekan. Menurutnya, itulah yang terbaik.

***

            “Tia, tolong berikan surat ini pada Marsya.”. Kata bu Uswa sambil memberikan sebuah surat dari sekolah. “Marsya mendapat beasiswa anak kurang mampu. Saya berharap dia bisa melanjutkan sekolahnya.”. Lanjutnya.
            Tia dan Ustin tidak bisa berkata apapun ketika surat itu berada di depan mereka. Bu Uswa juga memberikan alamat Marsya di Tuban. Mereka kini bersemangat untuk bertemu dengan sahabat mereka. Sebelum bel masuk kelas berbunyi, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang ke kost dan segera berkemas untuk pergi ke Tuban.
            “Kita bisa naik bus untuk pergi ke sana, Tin.”. Kata Tia sambil mengambil tas sekolahnya. Mereka pergi ke kost.
            Mereka membawa uang dan barang seadanya. Dengan mengendarai sepeda motor Ustin, mereka pergi ke terminal Bungurasih yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kost. Syukurlah, keadaan terminal tidak terlalu ramai. Sehingga, dengan mudahnya mereka menemukan bus menuju ke Tuban dan mendapatkan tempat duduk. Terbayang di wajah mereka tentang betapa cerewetnya Marsya ketika memarahi mereka karena telah mengunjunginya. Mereka berdua tersenyum bahagia.
            Kota demi kota telah dilewati, dan akhirnya mereka tiba di terminal Tuban. Karena benar – benar buta tentang kota itu, akhirnya mereka bertanya pada seorang tukang becak. Dia berkata pada mereka jika alamat Marsya tidak jauh dari terminal ini. Tukang becak itupun bersedia mengantarkan mereka berdua.

***

            Mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana di perkampungan belakang terminal. Ustin mulai mengetuk pintu rumah itu. Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya membuka pintu. Mereka berdua terkejut melihat keadaan pria itu yang terlihat sehat. Syukurlah, ayah Marsya telah sembuh. Batin Tia.
            “Pasti kalian temannya Marsya. Saya pernah lihat foto kalian bersama anak saya. Silahkan masuk.” Kata pria itu sambil mempersilahkan mereka. Mereka bertiga membicarakan banyak tentang Marsya dan Ustin memberikan surat titipan bu Uswa.
            “Sebenarnya, sekarang Marsya sudah punya rumah sendiri. Ayo kita kesana.”. Bersama ayah dan ibu Marsya, mereka pergi menemui Marsya.
            Mereka tiba di depan sebuah pintu masuk pemakaman Kristen. Ayah dan ibu Marsya menuju ke sebuah makam yang masih segar, lengkap dengan nisan yang terlihat masih baru. Dia duduk di sebelah makam itu. Tia dan Ustin mendekat, dan membaca identitas di nisan itu. Tertulis nama Marsya disana. Tia duduk bersimpuh sambil memeluk nisan Marsya, dan Ustin pun tidak bisa menahan air matanya lagi. Air mata menghujani peristirahatan Marsya di senja itu. Mereka kehilangan seorang sahabat terbaik yang pernah mereka miliki.
            Marsya memutuskan untuk pulang ke Tuban setelah mendengar keadaan hati ayah yang semakin memburuk. Saat itu ibu Marsya sudah putus asa untuk membawa suaminya berobat. Terlalu banyak hutang yang terus digali oleh mereka, namun tidak ada satupun yang bisa ditutup. Suatu malam, Marsya membawa ayahnya ke rumah sakit umum di kota itu. Tidak ada satupun yang tahu jika Marsya telah menyumbangkan hati untuk ayahnya. Tertulis di surat terakhirnya, dia juga ingin menjual organ tubuhnya untuk melunasi hutang orangtuanya. Malaikat keluarganya itu, kini telah pergi dengan cara yang indah.
            Tia mulai teringat segala petuah Marsya tentang betapa berartinya orangtua, seburuk apapun itu. Dia mulai tersadar jika sebuah kesalahan besar adalah membenci ibu tiri dan ayahnya. Tuhan benar – benar menganugerahkan Marsya sebagai udara sejuk diantara Tia dan Ustin. Karena bujukan Marsya, Ustin tidak berat hati untuk mengikuti kegiatan para siswa XII IPS 1 untuk berbagi bersama para penghuni panti asuhan. Di bawah tanah merah itu, Yohana Marsya telah tertidur manis bersama segala perbuatan baiknya. Meskipun mereka tidak bisa menyentuhnya, namun mereka yakin Marsya masih berada ditengah mereka.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar