Rabu, 27 November 2013

Semua yang Pernah Jadi Kucingku



sumber gambar: http://www.all-pic.com/wp-content/uploads/4ec185615ff19df5adaf04178b7513ff.gif


Mungkin sebagian orang berpikir kalau kucing itu menjijikkan, apalagi kucing kampung. Mulai dari penyakit pernapasan kalo nggak sengaja menghirup rambut – rambutnya, sampai cakaran kukunya yang kapanpun bisa melukai kulit. See, semua fakta itu sama sekali nggak membuat anggota keluargaku berhenti untuk hidup bersama kucing. Mulai dari nenek hingga saudara – saudara. Seakan kucing sudah menjadi anggota baru di kehidupan kami.
Sejak lahir, aku punya kucing pertama berwarna kuning yang bernama Molly. Katanya sih, doi dipungut sama papi sepulang dari klinik, waktu mami ngelahirin aku. Waktu itu Molly masih kecil tak berdaya, rambutnya kusut, kurus pula. Alhasil, mami harus mengasuh 2 bayi, bayi manusia dan bayi kucing. Mirisnya, sampai matipun Molly nggak pernah dicariin sama orangtuanya.
Sepeninggal Molly, aku masih berumur 8 tahun. Aku nggak sengaja nemuin kucing cewek berwarna hitam putih pas jogging keliling kompleks. Dia ngikutin aku. Jiwa malaikatku pun muncul. Aku ngajak doi pulang, mengasuh, dan mutusin buat manggil doi dengan sebutan “Cici”. Syukurlah, doi tumbuh jadi gadis kucing yang menawan. Namun pada suatu subuh, doi ngikutin mami belanja ke melijo (semacam toko sayuran) tanpa sepengetahuan beliau. Na’as, sebuah motor plus pengendaranya nabrak doi sampai mati. Aku baru dikasih tahu pas bangun tidur. Kalian pasti tahu gimana rasanya kehilangan, kan? Meskipun doi cuma kucing kampung, tapi rasanya udah seperti pacar sendiri. Tapi untunglah aku sadar kalau life must go on. Jadi, aku memutuskan untuk move on dan nggak bersedih lagi.
Nggak beberapa lama setelah itu, aku dikasih eyang seekor kucing berwarna kuning (lagi). Aku nggak terlalu inget sama nih kucing, soalnya kucing yang dipanggil “Prito” ini lebih suka bergaul sama kakak – kakakku. Malem itu mas Ren ngalungin tali hapenya di leher Prito. Apesnya, tiba – tiba hape itu bergetar. Sontak si Prito kaget dan langsung lari sprint ke arah semak belukar di sebelah rumah. Kalau misalnya tuh hape lampunya nggak nyala, mungkin mas Ren bakalan ngelemparin tuh kucing sampai bawa hapenya pulang. Buat readers, jangan sekali – kali ngalungin tali hape di lehernya kucing kalo masih cinta sama hape :3
Waktu si Prito tumbuh dewasa, doi mulai jarang pulang (Backsound : Jarang Pulang by Lina Geboy). Papi kembali mungut kucing dari kompleks. Konon, kucing berwarna hitam putih ini adalah anak dari kucing milik warga perumahan. No problem! Aku suka sama nih kucing. Doi punya kumis di deket hidungnya. So, sejak saat itu aku manggil doi dengan sebutan “Kumis”. Sementara papi lagi ngelu – eluin kegantengan Kumis, Prito makin jarang pulang dan entah gimana kabarnya. Beberapa bulan kemudian, Kumis hilang. Setelah dimandiin sama papi, doi jalan – jalan keliling kompleks menunjukkan kegantengannya. Nggak disangka, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Seseorang dari mobil itu langsung mungut Kumis begitu aja. Kenapa aku bisa tahu? Karena si pemungut Kumis adalah teman papi. Lagi – lagi, aku harus pisah sama peliharaanku.
Tahun 2005, kucing tanteku melahirkan. Nah, ceritanya aku kecipratan anak kucing nih. Aku dikasih dua kucing cowok berwarna kuning. Tanpa alasan apapun, kakak ngasih nama mereka dengan sebutan Coki dan Ciko. Mereka saling mencintai. Saking cintanya, pernah suatu hari mereka ngelakuin hal yang cuma dilakuin sama sepasang suami istri kucing. Kalian pasti udah tahu maksudku, kan? Ssshh.. Sejak saat itu aku merasa gagal buat ngedidik mereka, sampe mereka mutusin buat jadi sepasang homo. What a pity!
Coki
Tiga tahun setelah kedatangan Ciko dan Coki, papi kembali mungut bayi kucing. Namanya Komeng. Suaranya cempreng banget! Doi susah banget didiemin. Si Coki sayang banget sama doi. Sering banget aku mergokin Komeng lagi netek ke Coki. Coki berubah jadi ibu? :|  Kenapa kucing ini jadi miring? -___- Syukurlah, semakin dewasa Coki menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Doi udah sering nggak pulang, sama seperti Ciko. Aku bangga kalau sebenernya Ciko yang nuntun Coki ke jalan yang benar. Sementara mereka sibuk dengan dunia luar, Komeng semakin menjadi kucing kesayangan papi.
Komeng. Lumayan mirip sama Coki
Tahun 2009, Coki sakit keras dan akhirnya meninggal. Biaya dokter hewan yang mahal dan kurangnya perhatian papi membuat nyawa Coki nggak tertolong. Aku inget, kakak sama papi ngubur doi di belakang rumah, di sebelah makan Molly dan Cici. Ciko juga ikut sedih, sampai – sampai doi nggak mau makan selama beberapa hari.
Sampai sekarang aku punya 2 kucing. Ciko udah jadi engkong – engkong, umurnya 8 tahun. Sedangkan Komeng 5 tahun. Komeng makin disayang sama papi. Tiap sebulan 2 kali doi dimandiin. Kadang papi sama mami juga tidur seranjang sama si doi. Mungkin mereka ngerasa kesepian, lantaran kakak – kakakku udah punya kehidupan masing – masing, dan aku sendiri jarang kumpul sama mereka. Mungkin juga mereka udah ngebet pengen punya cucu dari kakak, dan sebagai pelampiasannya menganggap si Komeng sebagai cucunya sendiri. 
Komeng sekarang
Cukup sekian cerita tentang kehidupan kucing - kucingku, semoga kalian nggak memandang para kucing dengan sebelah mata. See ya!  ^^


2 komentar:

  1. jasik, komeng tenar :(
    ono Molly pisan. koyok jeneng iwak e della :>

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan2 kucingku Molly reinkarnasi dadi iwak e della :o

      Hapus