![]() |
| sumber gambar: http://www.all-pic.com/wp-content/uploads/4ec185615ff19df5adaf04178b7513ff.gif |
Mungkin sebagian orang berpikir kalau kucing itu menjijikkan, apalagi kucing kampung. Mulai dari penyakit pernapasan kalo nggak sengaja menghirup rambut – rambutnya, sampai cakaran kukunya yang kapanpun bisa melukai kulit. See, semua fakta itu sama sekali nggak membuat anggota keluargaku berhenti untuk hidup bersama kucing. Mulai dari nenek hingga saudara – saudara. Seakan kucing sudah menjadi anggota baru di kehidupan kami.
Sejak lahir, aku punya kucing pertama berwarna kuning yang
bernama Molly. Katanya sih, doi dipungut sama papi sepulang dari klinik, waktu mami ngelahirin aku. Waktu itu Molly masih kecil tak berdaya, rambutnya
kusut, kurus pula. Alhasil, mami harus mengasuh 2 bayi, bayi manusia dan bayi
kucing. Mirisnya, sampai matipun Molly nggak pernah dicariin sama orangtuanya.
Sepeninggal Molly, aku masih berumur 8 tahun. Aku nggak sengaja nemuin kucing cewek berwarna hitam putih pas jogging keliling kompleks. Dia ngikutin aku. Jiwa malaikatku pun muncul. Aku ngajak doi pulang, mengasuh, dan mutusin buat manggil doi dengan sebutan “Cici”. Syukurlah, doi tumbuh jadi gadis kucing yang menawan. Namun pada suatu subuh, doi ngikutin mami belanja ke melijo (semacam toko sayuran) tanpa sepengetahuan beliau. Na’as, sebuah motor plus pengendaranya nabrak doi sampai mati. Aku baru dikasih tahu pas bangun tidur. Kalian pasti tahu gimana rasanya kehilangan, kan? Meskipun doi cuma kucing kampung, tapi rasanya udah seperti pacar sendiri. Tapi untunglah aku sadar kalau life must go on. Jadi, aku memutuskan untuk move on dan nggak bersedih lagi.
Sepeninggal Molly, aku masih berumur 8 tahun. Aku nggak sengaja nemuin kucing cewek berwarna hitam putih pas jogging keliling kompleks. Dia ngikutin aku. Jiwa malaikatku pun muncul. Aku ngajak doi pulang, mengasuh, dan mutusin buat manggil doi dengan sebutan “Cici”. Syukurlah, doi tumbuh jadi gadis kucing yang menawan. Namun pada suatu subuh, doi ngikutin mami belanja ke melijo (semacam toko sayuran) tanpa sepengetahuan beliau. Na’as, sebuah motor plus pengendaranya nabrak doi sampai mati. Aku baru dikasih tahu pas bangun tidur. Kalian pasti tahu gimana rasanya kehilangan, kan? Meskipun doi cuma kucing kampung, tapi rasanya udah seperti pacar sendiri. Tapi untunglah aku sadar kalau life must go on. Jadi, aku memutuskan untuk move on dan nggak bersedih lagi.
Nggak beberapa lama setelah itu, aku dikasih eyang seekor
kucing berwarna kuning (lagi). Aku nggak terlalu inget sama nih kucing, soalnya
kucing yang dipanggil “Prito” ini lebih suka bergaul sama kakak – kakakku.
Malem itu mas Ren ngalungin tali hapenya di leher Prito. Apesnya, tiba – tiba
hape itu bergetar. Sontak si Prito kaget dan langsung lari sprint ke arah semak
belukar di sebelah rumah. Kalau misalnya tuh hape lampunya nggak nyala, mungkin
mas Ren bakalan ngelemparin tuh kucing sampai bawa hapenya pulang. Buat
readers, jangan sekali – kali ngalungin tali hape di lehernya kucing kalo masih
cinta sama hape :3
Waktu si Prito tumbuh dewasa, doi mulai jarang pulang
(Backsound : Jarang Pulang by Lina Geboy). Papi kembali mungut kucing dari
kompleks. Konon, kucing berwarna hitam putih ini adalah anak dari kucing milik
warga perumahan. No problem! Aku suka
sama nih kucing. Doi punya kumis di deket hidungnya. So, sejak saat itu aku manggil doi dengan sebutan “Kumis”.
Sementara papi lagi ngelu – eluin kegantengan Kumis, Prito makin jarang pulang
dan entah gimana kabarnya. Beberapa bulan kemudian, Kumis hilang. Setelah
dimandiin sama papi, doi jalan – jalan keliling kompleks menunjukkan
kegantengannya. Nggak disangka, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan.
Seseorang dari mobil itu langsung mungut Kumis begitu aja. Kenapa aku bisa
tahu? Karena si pemungut Kumis adalah teman papi. Lagi – lagi, aku harus pisah
sama peliharaanku.
Tahun 2005, kucing tanteku melahirkan. Nah, ceritanya aku
kecipratan anak kucing nih. Aku dikasih dua kucing cowok berwarna kuning. Tanpa
alasan apapun, kakak ngasih nama mereka dengan sebutan Coki dan Ciko. Mereka
saling mencintai. Saking cintanya, pernah suatu hari mereka ngelakuin hal yang cuma
dilakuin sama sepasang suami istri kucing. Kalian pasti udah tahu maksudku, kan? Ssshh..
Sejak saat itu aku merasa gagal buat ngedidik mereka, sampe mereka mutusin
buat jadi sepasang homo. What a pity!
| Coki |
Tiga tahun setelah kedatangan Ciko dan Coki, papi kembali
mungut bayi kucing. Namanya Komeng. Suaranya cempreng banget! Doi susah banget
didiemin. Si Coki sayang banget sama doi. Sering banget aku mergokin Komeng
lagi netek ke Coki. Coki berubah jadi ibu? :|
Kenapa kucing ini jadi miring? -___- Syukurlah, semakin dewasa Coki
menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Doi udah sering nggak pulang, sama
seperti Ciko. Aku bangga kalau sebenernya Ciko yang nuntun Coki ke jalan yang
benar. Sementara mereka sibuk dengan dunia luar, Komeng semakin menjadi kucing
kesayangan papi.
| Komeng. Lumayan mirip sama Coki |
Tahun 2009, Coki sakit keras dan akhirnya meninggal. Biaya dokter
hewan yang mahal dan kurangnya perhatian papi membuat nyawa Coki nggak
tertolong. Aku inget, kakak sama papi ngubur doi di belakang rumah, di sebelah
makan Molly dan Cici. Ciko juga ikut sedih, sampai – sampai doi nggak mau makan
selama beberapa hari.
Sampai sekarang aku punya 2 kucing. Ciko udah jadi engkong –
engkong, umurnya 8 tahun. Sedangkan Komeng 5 tahun. Komeng makin disayang sama papi. Tiap sebulan 2 kali doi dimandiin. Kadang papi sama mami juga tidur
seranjang sama si doi. Mungkin mereka ngerasa kesepian, lantaran kakak – kakakku
udah punya kehidupan masing – masing, dan aku sendiri jarang kumpul sama
mereka. Mungkin juga mereka udah ngebet pengen punya cucu dari kakak, dan
sebagai pelampiasannya menganggap si Komeng sebagai cucunya sendiri.
![]() |
| Komeng sekarang |
Cukup sekian cerita tentang kehidupan kucing - kucingku, semoga kalian nggak
memandang para kucing dengan sebelah mata. See
ya! ^^


jasik, komeng tenar :(
BalasHapusono Molly pisan. koyok jeneng iwak e della :>
jangan2 kucingku Molly reinkarnasi dadi iwak e della :o
Hapus