Sabtu, 06 September 2014

Siapa namamu?



            Aku merangkai sebuah sejarah baru dalam hidupku. Ospek. Pengenalan kehidupan kampus untuk para mahasiswa baru, dan aku menjadi satu diantara ratusan maba di falkultas yang menerimaku. Disitulah akhirnya aku menemukanmu. Satu – satunya yang berkacamata diantara jajaran anggota kelompok yang selalu diwaspadai.

            Kau diantara jajaran kelompok yang nggak pernah nyengir, apalagi tersenyum. Kelompokmulah yang selalu membuat para maba waspada, yang selalu memaksa para maba untuk selalu datang lebih awal dari jam 4.30 pagi. Kelompokmulah yang sangat suka menyalakan sirine megaphone sebagai panggilan agar maba segera berkumpul. Dan jika ada maba yang terlambat datang, kelompokmulah yang mengurusinya.
            Beberapa anggota kelompokmu sangat suka berkicau keras di depan para maba, tapi kau hanya berdiri diam di belakang sambil menunjukkan wajah seriusmu. Ketika aku menoleh ke belakang hanya untuk melihatmu, kau hanya melirik dan nggak menyuruhku untuk tetap melihat salah satu anggota kelompokmu yang sedang berkicau di depan. Tiba – tiba, dari arah lain salah satu anggota kelompokmu menyuruhku untuk kembali fokus pada perkataan yang sedang berkicau di depan dengan sedikit ‘bentakan’.
            Beruntungnya aku ketika salah satu anggota kelompokmu menyuruhmu dan anggota kelompokmu yang lain untuk memeriksa kelengkapan atribut para maba. Aku merasakan kau ada di dekatku saat itu. Benar saja, ketika aku menoleh ke belakang kau berdiri di belakangku sambil memegang ‘name tag’ yang terpasang di punggungku. Jantungku berdetak lebih cepat bukan karena takut jika ada salah satu atribut yang salah, tapi karena kaulah yang memeriksa atributku. Ketika kau berpindah di depanku untuk memeriksa atribut di bagian depan, ‘id card’ yang terpasang di dada kiriku terbalik sehingga kau tidak bisa melihat namaku dengan jelas. Sehingga, kau menyuruhku untuk membalikkan ‘id card’ku. Pada momen itulah kali pertama aku mendengar suaramu. Aku tersenyum ketika kau melihatku.
            Ketika para maba digiring menuju auditorium, aku terpisah dengan rombongan prodiku karena aku baru saja keluar dari ruang kesehatan. Aku terpaksa menjadi maba selundupan di rombongan prodi lain. Di ruang auditorium itulah aku kembali menemukanmu. Aku menghampirimu untuk mendengar suaramu, dengan memanfaatkan sebuah kesempatan bertanya tentang keberadaan rombongan prodiku.
“Kak, prodi mandarin dimana?”
            Kau menatapku sebentar, lalu melihat ke arah lain. Mungkin kau sedang berpikir. Kau kembali menatapku sambil berkata, “Tanya temanmu!”
            Sebuah jawaban tanpa nada yang kau lontarkan, tapi aku tetap tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Tersenyumlah…Tersenyumlah… Harapanku dalam hati. Namun kau malah menunduk. Mungkin belum saatnya aku melihatmu tersenyum.
            Penutupan ospek ditutup dengan inagurasi. Kelompokmu telah habis masa ‘bentak – bentaknya’, dan giliran para maba untuk melihat kelompokmu berdiri di panggung tanpa menunjukkan wajah garang yang selalu kalian tunjukkan selama seminggu. Satu persatu anggota kelompokmu mulai tersenyum, bahkan ada yang tertawa. Tapi kau, hanya senyum datar yang kau lontarkan. Kau pasti sangat manis jika tersenyum, kak.
            Hingga akhir ospek, satu – satunya pertanyaan yang menghantuiku adalah siapa namamu. Kau yang berkulit sawo matang, berkacamata, dan mengenakan kain merah di lengan kirimu, yang belum pernah tersenyum di hadapanku, yang selalu kurindukan. Aku ingin mengenalmu. Di hari – hari kuliah nanti, semoga kau nggak tenggelam diantara ratusan mahasiswa sehingga sulit menemukanmu. Kau yang masuk dalam pikiranku, siapa namamu?   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar