Aku merangkai sebuah sejarah baru dalam hidupku. Ospek. Pengenalan
kehidupan kampus untuk para mahasiswa baru, dan aku menjadi satu diantara
ratusan maba di falkultas yang menerimaku. Disitulah akhirnya aku menemukanmu.
Satu – satunya yang berkacamata diantara jajaran anggota kelompok yang selalu
diwaspadai.
Kau diantara jajaran kelompok yang nggak pernah nyengir,
apalagi tersenyum. Kelompokmulah yang selalu membuat para maba waspada, yang
selalu memaksa para maba untuk selalu datang lebih awal dari jam 4.30 pagi. Kelompokmulah
yang sangat suka menyalakan sirine megaphone sebagai panggilan agar maba segera
berkumpul. Dan jika ada maba yang terlambat datang, kelompokmulah yang
mengurusinya.
Beberapa anggota kelompokmu sangat suka berkicau keras di
depan para maba, tapi kau hanya berdiri diam di belakang sambil menunjukkan
wajah seriusmu. Ketika aku menoleh ke belakang hanya untuk melihatmu, kau hanya
melirik dan nggak menyuruhku untuk tetap melihat salah satu anggota kelompokmu
yang sedang berkicau di depan. Tiba – tiba, dari arah lain salah satu anggota
kelompokmu menyuruhku untuk kembali fokus pada perkataan yang sedang berkicau
di depan dengan sedikit ‘bentakan’.
Beruntungnya aku ketika salah satu anggota kelompokmu
menyuruhmu dan anggota kelompokmu yang lain untuk memeriksa kelengkapan atribut
para maba. Aku merasakan kau ada di dekatku saat itu. Benar saja, ketika aku
menoleh ke belakang kau berdiri di belakangku sambil memegang ‘name tag’ yang
terpasang di punggungku. Jantungku berdetak lebih cepat bukan karena takut jika
ada salah satu atribut yang salah, tapi karena kaulah yang memeriksa atributku.
Ketika kau berpindah di depanku untuk memeriksa atribut di bagian depan, ‘id
card’ yang terpasang di dada kiriku terbalik sehingga kau tidak bisa melihat
namaku dengan jelas. Sehingga, kau menyuruhku untuk membalikkan ‘id card’ku. Pada
momen itulah kali pertama aku mendengar suaramu. Aku tersenyum ketika kau
melihatku.
Ketika para maba digiring menuju auditorium, aku terpisah
dengan rombongan prodiku karena aku baru saja keluar dari ruang kesehatan. Aku terpaksa
menjadi maba selundupan di rombongan prodi lain. Di ruang auditorium itulah aku
kembali menemukanmu. Aku menghampirimu untuk mendengar suaramu, dengan
memanfaatkan sebuah kesempatan bertanya tentang keberadaan rombongan prodiku.
“Kak, prodi mandarin
dimana?”
Kau menatapku sebentar, lalu melihat ke arah lain. Mungkin
kau sedang berpikir. Kau kembali menatapku sambil berkata, “Tanya temanmu!”
Sebuah jawaban tanpa nada yang kau lontarkan, tapi aku
tetap tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Tersenyumlah…Tersenyumlah…
Harapanku dalam hati. Namun kau malah menunduk. Mungkin belum saatnya aku
melihatmu tersenyum.
Penutupan ospek ditutup dengan inagurasi. Kelompokmu telah
habis masa ‘bentak – bentaknya’, dan giliran para maba untuk melihat kelompokmu
berdiri di panggung tanpa menunjukkan wajah garang yang selalu kalian tunjukkan
selama seminggu. Satu persatu anggota kelompokmu mulai tersenyum, bahkan ada
yang tertawa. Tapi kau, hanya senyum datar yang kau lontarkan. Kau pasti sangat
manis jika tersenyum, kak.
Hingga akhir ospek, satu – satunya pertanyaan yang
menghantuiku adalah siapa namamu. Kau yang berkulit sawo matang, berkacamata,
dan mengenakan kain merah di lengan kirimu, yang belum pernah tersenyum di hadapanku,
yang selalu kurindukan. Aku ingin mengenalmu. Di hari – hari kuliah nanti,
semoga kau nggak tenggelam diantara ratusan mahasiswa sehingga sulit
menemukanmu. Kau yang masuk dalam pikiranku, siapa namamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar